Kembangkan Ekonomi Digital, Mochtar Riady: RI Perlu Belajar dari Tiongkok

Kembangkan Ekonomi Digital, Mochtar Riady: RI Perlu Belajar dari Tiongkok

Sumber gambar 

Founder Lippo Group Mochtar Riady menyatakan, Indonesia bisa mengacu ke Tiongkok dalam mengembangkan ekonomi digital dan masyarakat digital. Negara yang sudah 30 tahun menutup diri tersebut dinilai berhasil memanfaatkan ekonomi digital untuk memakmurkan rakyatnya.

Menurut Mochtar, kemajuan teknologi pembayaran di Tiongkok sudah sangat pesat. Sehingga masyarakat yang ingin berbelanja tidak perlu repot-repot menyiapkan uang tunai. Namun, hal berbeda ditemui di Jepang. Di salah satu negara maju tersebut sistem pembayaran masih konvensional, yaitu menggunakan uang tunai. “Saya beberapa bulan lalu pergi ke kota yang kelas tiga di tiongkok. Di situ saya lihat setiap orang bayar delivery dengan e-pay. Dua hari lalu saya ada di Tokyo lihat semua orang beli barang kontan,” kata dia, di Jakarta, Senin (27/3).

Padahal pembayaran menggunakan teknologi sangat memudahkan masyarakat sekaligus membuat efisiensi. Jika Jepang tidak mengikuti perubahan ini, maka Jepang bisa terjebak dalam kelompok negara berpendapatan menengah. “Jepang mulai tidak sadar dilampaui Tiongkok. Tidak lama lagi kalau tidak sadar bisa masuk middle income trap,” kata Mochtar.

Ia juga menceritakan bagaimana perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Salah satunya adalah perubahan dari taksi konvensional menjadi taksi online. “Dia bisa atur puluhan ribu supir dan begitu tertib. Namun siapa tahu beberapa bulan kedatangan Grab, Uber hadir menunjuk betapa hebatnya digital economy,” kata Mochtar.

Indonesia sendiri pun tidak bisa lolos dari kejaran ekonomi digital. Dengan kehadiran berbagai e-commerce dan e-pay pun ia yakin ekonomi Indonesia ke depan bisa tumbuh lebih besar lagi. “Dengan e-commerce dan e-pay bangsa Indonesia akan alami kemajuan sangat besar. Mari memikirkan ikut serta dalam digitalisasi bangsa Indonesia,” kata Mochtar.

Ia mencatat, gejala yang kerap menghambat sebuah perusahaan besar, perusahaan keluarga atau bahkan negara seperti Eropa dan Amerika Selatan berkembang adalah jebakan middle income, yakni saat pendapatan perkapita satu negara mencapai US$ 5.000. Kala itu biaya tenaga kerja akan membumbung, sehingga mereka yang tidak sensitif terhadap perubahan teknologi akan kalah bersaing.

“Saya contohkan perusahaan otomotif raksasa Prancis, Renault, dia akuisisi perusahaan otomotif raksasa Jepang seperti Nissan. Kemudian lewat Nissan dia takeover Mitsubitsi. Ini karena teknologi. Juga ada perusahaan Tiongkok takeover perusahaan raksasa Jepang di bidang elektronik yakni Sharp dan Hitachi,” kata dia.

Ia juga menyinggung soal kehadiran Alfamart dan Indomart di kabupaten, yang sebetulnya jika pengusaha kecil bisa memanfaatkan ekonomi digital mereka akan mampu bersaing. “Di Indonesia, orang desa selalu membeli barang lebih mahal dari orang kota. Sementara petani menjual paling murah karena melalui berbagai perantara. Ini tidak adil. Saya kira sudah saatnya pemerintah memikirkan untuk membangun masyarakat digital. Memperhatikan dua sisi si pembeli dan penjual. Daripada saldo t-cash diberikan ke pembeli misalnya mendingan dipakai untuk infrastruktur pembayaran EDC penjual misalnya,” tambah dia.

Mochtar percaya ekonomi digital bisa mengangkat kesejahteraan segenap warga. “Ini bukan mainan orang tua atau orang kaya, justru ini mainan pemuda semuanya. Kalau kita masuk ke e-commerce dan e-payment saya yakin Indonesia akan mengalami kemajuan yang besar. Kita bisa bikin pilot project di satu kabupaten bikin warung mart atau warung rakyat di desa-desa dengan bekerjasama dengan Kemendag,” kata dia.

Ditambahkan, pemerintah dan kalangan pengusaha bisa membangun 1 juta merchant atau pengusaha dan membangun perusahaan logistik untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan perdagangan di daerah tersebut dan prosesnya akan menjadi murah. “Sebetulnya seperti HIPMI melalui cabangnya di seluruh Indonesia, mereka bisa membentuk satu perusahaan logistik untuk mengatur pengirimannya. Kalau ada logistik yang baik ditambah satu juta toko ini akan sangat memdorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Mochtar.

Tahapan Pembangunan

Sementara itu, saat membuka Rapat Kerja Nasional XVI Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Ballroom Hotel The Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Senin (27/3), Presiden Joko Widodo menyampaikan

tiga tahapan pembangunan nasional menuju Visi Indonesia 2045.

Untuk diketahui, masing-masing dalam ketiga tahapan tersebut terbagi atas sepuluh tahun pelaksanaan. Tahapan pertama yang menjadi fondasi bagi seluruh tahapan yang ada ialah mengenaipembangunan infrastruktur. “Yang pertama, sebagai fondasi, kita akan bangun infrastruktur. Ini sangat penting sekali,” ujar Presiden.

Pembangunan infrastruktur menjadi program andalan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sebab, dengan pembangunan infrastruktur ini, Indonesia hendak meningkatkan daya saingnya. “Tahapan pertama pembangunan infrastruktur ini betul-betul harus fokus dan kita selesaikan. Dengan inilah kita bisa memperkuat daya saing kita. Biaya logistik dan transportasi akan jauh lebih murah sehingga nantinya harga-harga juga bisa bersaing dengan produk-produk dari luar,” ungkapnya.[ID/E-8]

Sumber :beritasatu.com