Menjadikan Yogya Destinasi Pendidikan (Arsip Maret 2017)

DALAM lima belas tahun terakhir perguruan tinggi telah mengalami transformasi makna dan peran yang luar biasa. Dari semula sebagai lembaga pencetak sarjana kini telah berubah menjadi the engine of growth (mesin pertumbuhan ekonomi). Transformasi ini diikuti dengan kehadiran destinasi pendidikan diberbagai kota besar didunia.

Secara umum destinasi pendidikan dapat dibagi menjadi dua jenis. Pertama, dalam bentuk EduCity yang unsur utamanya adalah kampuskampus cabang (internasional) beserta fasilitas yang lengkap seperti auditorium, sarana olah raga, apartemen mahasiswa, tempat ibadah, pertokoan. Sedangkan destinasi kedua atau sebenarnya adalah alternatif dari EduCity adalah model kelas internasional yang berkembang luas di negara-negara Eropa yang bukan penutur Bahasa Inggris seperti Belanda, Jerman, Perancis, Swedia dan lainnya.

EduCity

Model pertama adalah EduCity yang berkembang pesat di Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Korea Selatan. EduCity yang berkembang saat ini adalah DIAC (Dubai International Academic City), EduCity Iskandar, Johor, Malaysia dan Incheon Global Campus di Korea Selatan. Dalam EduCity ini kampus-kampus terkemuka dari Barat mendirikan kampus cabang dan menyelenggarakan kuliah, pertukaran dosen dan mahasiswa serta kolaborasi riset internasional. EduCity bertujuan untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang memiliki wawasan global dan memiliki kemampuan bersaing prima atau di atas rata-rata yang sangat dibutuhkan perekonomian bangsa-bangsa dalam era persaingan global saat ini. Secara perlahan tapi pasti destinasi pendidikan tinggi di luar negara-negara Barat ini mulai menggeser peran sentral perguruan tinggi yang secara tradisional dikuasai oleh Amerika, Inggris, Australia, dan Canada atau yang sering disebut sebagai the Big Four.

Pada era digital ini mahasiswa memiliki minat yang sangat tinggi untuk mendapatkan pengalaman internasional. Mereka mulai bosan terlalu lama tinggal di kelas dengan teman-teman yang tak banyak berubah. Dengan adanya tilpon seluler mereka terdorong untuk mengetahui, mengenal teman-teman dari berbagai belahan dunia yang memiliki budaya, agama, dan cita rasa yang beraneka ragam. Secara khusus destinasi pendidikan tinggi dalam bentuk EduCity sesungguhnya merupakan kombinasi antara pendidikan dan bisnis.

Kelas Internasional

Model kedua yang sangat berkembang luas di Eropa adalah pengembangan kelas atau program internasional. Kelas internasional adalah program studi yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Di Belanda bukan hanya kuliah yang diselenggarakan dalam Bahasa Inggris. Akan tetapi pelayanan di program studi, di unit-unit lain yang berhubungan dengan pelayanan mahasiswa di tingkat fakultas maupun universitas juga telah menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Bahkan di Leiden saat ini rapat-rapat di fakultas telah diselenggarakan dalam Bahasa Inggris padahal tidak satupun orang Inggris ada didalam ruangan.

Model kelas internasional ini pada hakikatnya jauh lebih murah dibandingkan dengan model EduCity yang jauh lebih mahal karena melibatkan investasi asing langsung, memerlukan lahan yang luas serta peraturan menteri yang tidak mudah diperoleh. Belanda adalah contoh sukses dalam mengembangkan program atau kelas internasional. Program ini memberikan sumbangan strategis dalam penciptaan lulusan yang berwawasan global sehingga Belanda dalam tahun 2016 termasuk satu dari sepuluh besar negara dengan daya saing ekonomi paling kompetitif di dunia menurut World Economic Forum.

Strategi Belanda sangat menarik. Karena pemerintah mampu mendorong puluhan kota-kota besar maupun kecil untuk mengembangkan kelas-kelas internasional yang mampu menarik para mahasiswa dari Eropa maupun China. Sebagai contoh Amsterdam memiliki 315 kelas internasional, Leiden (232), Delft (176), Groningen (175), Rotterdam (114) serta kota-kota lain.

Prospek Yogya

Destinasi pendidikan model Belanda mungkin lebih tepat untuk Yogya. Pada saat ini UII telah memiliki kelas internasional di prodi Ekonomi, Hukum dan Teknik Industri. UGM memiliki kelas internasional di prodi Ekonomi dan Ilmu Hubungan Internasional. UMY memiliki kelas internasional dalam prodi Ilmu Hubungan Internasional, Hukum, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Akuntansi. Sementara UIN Yogya memiliki program doktor dengan pengantar Bahasa Arab. Pendek kata, Yogya siap memperkaya Keistimewaan Yogya dengan membangun Yogya sebagai destinasi pendidikan.

(Prof Dr Bambang Cipto. Mantan Rektor UMY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 24 Maret 2017)

Sumber : krjogja.com

Share :
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Artikel yang lain